Mau inovasi? Hadirkan pengalaman

coffee-colleagues-cup.jpg
“Saya tidak bisa membuat karyawan disini berinovasi!”, begitu kata seorang pimpinan sebuah perusahaan besar di Indonesia. “Padahal saya sudah buatkan Innovation Lab yang sudah sangat bagus disini. Apa yang kurang?”, begitu imbuhnya.

Memang benar, ada satu lantai di gedung itu yang di desain dengan penuh warna, ruang kerja terbuka dengan tempelan post-it notes, lengkap dengan bean bags dan meja pingpong. Keren. Tapi ya itu, tetap saja tidak ada inovasi layak yang muncul di ruangan keren itu.

Masalahnya adalah inovasi tidak akan lahir semata-mata karena tempat kerja yang keren. Bahkan kalau lihat para inovator yang telah mengubah dunia kita saat ini, inovasi mereka tidak lahir di ruangan keren. Lampu pijar lahir di workshop Edison yang berdebu. Apple lahir di garasi rumah orang tua Steve yang terbengkalai. Facebook lahir di kamar asrama Mark yang sempit.

Lalu apa yang akan dapat memicu lahirnya inovasi?Jawabannya adalah pengalaman. Bukan pengalaman masa lalu tentunya, melainkan pengalaman baru yang karyawan dapatkan ditempat kerja. Pengalaman baru ini bisa hadir dari interaksi harian dengan kolega, bisa juga lahir dari penugasan atasan yang mendorong mereka mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru.

Steve Jobs tumbuh besar di Palo Alto, sebuah kota kecil di selatan San Fransisco yang dikenal sebagai tempat lahirnya lembah silikon. Kota Palo Alto tumbuh berkembang diatas kombinasi kuat antara tradisi dan teknologi. Disinilah perusahaan-perusahaan besar yang mengubah dunia yang kita kenal saat ini lahir, tumbuh dan berkembang. Disini pula kampus ternama Stanford University berdiri lebih dari seratus tahun yang lalu.

Sejak muda Steve biasa bergaul dengan mahasiswa stanford dan karyawan perusahaan teknologi seperti Hewlett Packard dan Atari. Hewlett secara pribadi seringkali memberi Stevesparepart untuk projek-projek yang ia kerjakan. Di Atari dia mendapat tantangan dari sang Founder untuk ‘mengoprek’ mesin konsol Atari agar dapat bekerja lebih efisien. Lalu ada Homebrew Computer Club, tempat kumpulnya para computer hobbyist untuk saling memamerkan karya-karya mereka dimana Steve suka nongkrong.

Sebelum lahirnya iMac, iPod, iPhone, iPad dan beragamproduk revolusioner Apple lainnya, ada seorang Steve Jobs muda yang tumbuh dilingkungan yang tidakberhenti memberinyapengalaman yang mendorongnya mengeksplorasi hal-hal baru, bermimpi besar dan bereksperimentasi.

Singkatnya, sebuah inovasi adalah produk dari lingkungan dimana sang inovator itu tumbuh.Beberapa perusahaan beruntung karena sudah memiliki budaya inovasi yang baik, sistem perusahaan mendukung untuk lahirnya ide-ide baru dan tindaklanjutnya, para atasan sudah terbiasa memberi tantangan dan dukungan pada timnya. Namun demikian banyak perusahaan yang tidak seberuntung itu. Lalu adakah harapan bagi perusahaan-perusahaan ini untuk dapat menghadirkan pengalaman karyawan yang bisa melahirkan inovasi?

Tentu saja jawabannya, ada. Namun memang tidak mudah. Jelas tidak cukup dengan hanya membuat ruangan kerja yang keren. Perusahaan harus secara sdar dan konsisten menciptakan kebijakan, sistem dan program-program yang dapat secara langsung memicu aksi dan pengalaman yang dibutuhkan karyawan untuk berinovasi. Dan ini bisa dilakukan. Selama beberapa tahun terakhir Corporate Innovation Asia (CIAS) telah membantu banyak perusahaan melakukannya.

Pertanyaannya hanyalah, apakah perusahaan memiliki ‘political will’ yang kuat untuk menjalankannya? Karena musuh terbesar inovasi di perusahaan bukanlah kurangnya talenta, tapi immune system yang berlindung dibalik politik kantor. Kita akan bahas ini di kesempatan lain. Untuk saat ini, pertanyaan yang lebih mendesak adalah, “seberapa besar Anda ingin melakukannya?”

Seberapa besar peluang sukses Anda melakukannya tergantung dari jawaban Anda atas pertanyaan itu.